
Sejak tiga tahun yang lalu, Vietnam sudah ada di place-to-visit list saya, namun baru kali ini berkesempatan mengunjunginya. Kira-kira sebulan yang lalu, Waktu iseng-iseng browsing local airlines untuk balik ke Jakarta, tidak sengaja saya menemukan promo dari
Lion Air untuk penerbangan Jakarta-Singapura-Ho Chi Minh City. Langsung saya telpon si jontor untuk memastikan tanggal. Akhirnya kami berhasil mendapatkan tiket perjalanan pulang-pergi Singapura-Ho Chi Minh City untuk dua orang seharga 2,1 rupiah juta saja.

Singkat cerita, tanggal 1 Mei 2008, sekitar jam 10 pagi kami sudah berada di salah satu boarding room di
Changi Airport. Bahkan di boarding room pun, suasana Vietnam sudah terasa karena banyak juga orang Vietnam yang menggunakan jasa Lion Air ini. Pesawat Boeing 737-900ER juga memberikan nilai plus bagi Lion Air untuk go international. Salut buat Lion Air yang sudah membuka rute baru ini dan juga buat service yang sangat baik. Setidaknya kami bisa makan siang cukup enak di pesawat. :)

Akhirnya pesawat JT 150T kami mendarat di
Tan So Nhat International Airport di Ho Chi Minh City, Vietnam. Kami melewati imigrasi dengan lancar. Sebagai pemegang paspor Indonesia yang setia, kami tidak perlu membayar seperser pun untuk visa. Setelah itu kami langsung menukarkan SGD yang kami bawa dengan Dong (mata uang Vietnam, disingkat VND) di salah satu money changer di bandara. Kami mendapat VND 11144 per SGD. Jangan menukar terlalu banyak SGD atau USD karena exchange-rate di luar bandara lebih bagus. Kemudian, sesuai
blog-nya mbak Elok, dari terminal internasional, kami berjalan sekitar 250 meter menuju terminal domestik. Di situ sudah nge-tem dua bis nomer 152 yang membawa kami menuju De Tham dan Bui Vien, kawasan backpacker utama pusat kota Saigon. Tiket seharga VND 3000 / orang sangatlah murah, apalagi jika di konversi ke rupiah. :D
Setibanya di De Tham Street, kami langsung kesana-kemari untuk mencari hotel atau penginapan murah. Hotel yang pertama kali kami datangi memberikan harga USD 22 / night. Namun karena lagi-lagi berpatokan ke blog-nya mbak Elok yang berfirman bahwa ada private room seharga USD 8 / night, kami mencoba tempat lain. Setelah beberapa tempat kami tanya, akhirnya tiba-tiba ada seorang bapak yang menawarkan private room seharga USD 12 / night. Saya bilang setuju dan mengikuti bapak itu. Bapak itu berjalan memasuki gang-gang sempit di daerah De Tham dan menujukan penginapan yang ternyata milik adik iparnya. :))

Setelah merasa aman dan tidak kuatir bakal ngegembel di Saigon, kami langsung keluar dan mencari info di beberapa tour agency untuk hari kedua dan ketiga. Kami menemukan
TNK Travel yang menawarkan one-day tour ke Cao Dai Temple & Cu Chi Tunnel seharga hanya USD 7 / orang, dan one-day tour ke Mekong Delta River seharga hanya USD 9 / orang. Setelah booking tiket untuk kedua tur tersebut, kami langsung berjalan menuju Ben Thanh market mengikuti peta seadanya dari TNK Travel. Namun di tengah jalan kami melihat banyak tempat yang menyewakan motor. Akhirnya kami menyewa sebuah motor bebek seharga hanya USD 4 / day. Di perjalanan kami menemukan money changer. Di tempat itu tiap SGD dihargai VND 11800. Lebih tinggi dari rate di bandara kan. :D

Dengan motor bebek perjalanan di hari pertama bukannya menjadi lebih cepat dan lancar, tapi malah membingungkan. Peta yang kurang jelas, pengetahuan yang minim tentang gaya berkendara orang-orang Vietnam, traffic light yang tidak jelas dan pembatas jalan yang sudah kabur memberikan nuansa semrawut kota ini. Apalagi karena harus melaju di sebelah kanan (kebalikan dari Singapura dan Indonesia) membuat kami tidak bisa fokus memperhatikan peta sekaligus jalan, sehingga beberapa kali kami tersesat. Namun akhirnya dengan semangat untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat, kamu sampai juga di
Reunification Palace, museum yang dulunya adalah kediaman resmi dari Presiden Vietnam Selatan. Di gedung yang selesai di bangun tahun 1966 ini, kita bisa melihat lebih dekat sejarah Vietnam yang didalah perjalanannya banyak berhubungan dengan banyak nagara. Di sinilah, pada tanggal 30 April 1975, perang yang dimotori Amerika secara resmi berakhir.

Setelah puas melihat ruangan-ruangan bersejarah di Reunification Palace, kami melaju kencang menuju catedral terkenal yang bernama resmi
Saigon Notre-Dame Basilica. Catedral yang dibangun tahun 1863-1880 ini memiliki dua menara tempat lonceng gereja diletakan. Selayaknya gereja Katholik, di dalam cathedral tersebut terdapat jalan salib yang membimbing pengunjung untuk menghayati makna pengorbanan Kristus. Banyak turis dan orang lokal yang bersujud berdoa di dalam gereja tersebut yang membuat saya sungkan untuk mengambil terlalu banyak foto dengan flash. Di depan catedral tersebut berdiri kokoh patung Bunda Maria yang wajahnya menghadap sedikit keatas.

Setelah itu giliran
Saigon Central Post Office yang kami sambangi. Terletak persis di samping kiri Notre-Dame Cathedra, Saigon Central Post Office dibangun pada masa kolonial Perancis dan bergaya arsitektur Gothic. Bagi saya, interior gedung ini sangatlah indah dan adem. Lukisan paman Ho di bagian dalam ruangan juga memberikan suasana ramah. Selain itu kita bisa melihat dua peta Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.

Sebelum ke
Ben Thanh Market, kami mencoba salah satu restoran Vietnam di dekat Notre-Dame Catedral. Sayangnya makanan yang disajikan tidak sebanding dengan kecantikan wanita-wanita Vietnam. Hambar dan mahal. Mungkin kami salah pilih tempat makan. Sebaiknya cari tempat makan di Ben Thanh Market yang terkenal itu. Di pasar itu kita bisa menemukan banyak barang murah (asal pinter nawar). Mulai dari kaos, tas, sepatu, parfum, sampai kopi, manisan, buah-buahan. Juga jangan lupa untuk beli souvenir di pasar ini karena banyak ragam dan relatif lebih murah dibanding di luar.

Setelah puas tawar-menawar dan membawa cukup banyak barang, kami kembali menuju De Tham untuk mengembalikan motor pinjaman dan langsung berjalan kaki menuju hotel hanya untuk ngadem dan mandi, kemudian berlanjut menuju rumah makan yang direkomendasikan pemilik hotel, Pho Ho 24. Pho adalah masakan khas Vietnam yang paling populer. Mie tipis berwarna putih dengan kuah yang yummy, ditambah daging sapi atau ayam, dan kecambah. Rasanya cukup enak.

Setelah kenyang kami berjalan-jalan di sekitar De Tham sekedar untuk melihat-lihat suasana malam di Saigon. Karena kebetulan saat itu masih dalam suasana patriotisme, kami sempat menonton pertunjukan lagu-lagu dan tari-tarian dalam rangka berakhirnya perang Vietnam, 30/4. Banyak orang tua dan muda berkumpul di public area yang disulap menjadi panggung pertunjukan ini.
Click here for more pictures. you might need a Multiply account.Exchange rate: SGD 1.00 = VND 11144 - 11800 (as per 1 May 2008)
Photos courtesy of Boaz WibowoIf you upload the photos to other sites, you must add the phrase "Photo Courtesy of Boaz Wibowo and iorboaz.multiply.com" somewhere near the photos.
8 comments:
woo.. pantesan blognya ga diupdate lumayan lama.. tnyata jalan2 ke vietnam :D seru bo!!
telat di update karena bingung gimana cara menyampaikan cerita yang bagus... :D :D
nemu sate tikus po?
wah.. ora nemu ki, mas.. neng ngendi yo? wis tau nyoba pa?
Wah akhirnya backpacking ke vietnam nih Bo, padahal dulu pas ke KL niatnya kan ke Thailand he..He..
Sip lah, jadi ada sumber informasi tepercaya kalo ntar aku ada kesempatan ke vietnam:-)
minggu depan ke bangkok nih...
jadi ada liputan khusus lagi tentang liburan ke bangkok dan sekitarnya... :D
Impress Travel specially is doing in tailor made tours, travel, vacations and holiday packages to Vietnam and Indochina for singles, couples, families and small groups. http://www.impressvietnam.com
Vietnam Tour
- As a local Vietnam tour operator, Footprint can take you on a custom-made tour to destinations throughout Vietnam. From small group tours of historical Vietnam; to eco-adventures in Halong Bay; to cultural community-based tourism products in Ha Giang. More information at: http://www.footprintsvietnam.com
Post a Comment