Saturday, May 10, 2008

berburu foto: Little India - Singapore

Seperti biasa, sabtu adalah hari untuk berburu foto. Kali ini Little India yang kami pilih untuk memotret temple, masjid, dan gereja-gereja disana. Perburuan dimulai dari Little India MRT Station. Dari sana kami berjalan kearah timur laut menuju Mustafa Center di Serangoon Road. Kemudian kami akhiri di Ferrer Park MRT Station. Sepanjang perjalanan tidak banyak moment menarik yang saya bisa abadikan.



Klik di sini untuk melihat hasil buruan.

Peralatan:
Canon EOS 40D
Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS
Kenko DMC UV Filter 58mm
YXTM Lens Hood KLEW-60

Friday, May 09, 2008

Vietnam Trip, Day 4

Tidak banyak yang kami lakukan dan kunjungi di hari terakhir (4 Mei 2008) di Ho Chi Minh City, karena pesawat Lion Air jurusan Ho Chi Minh City-Singapore akan berkangkat jam 12 siang. Jadi kami bangun cukup pagi dan bergegas untuk berjalan-jalan di dalam kota saja.

Untuk menghemat waktu, dari De Tham, kami ambil taxi menuju City Hall. Sayangnya supir taxi-nya tidak bisa berbahasa Inggris sehingga, walau sudah saya tunjuk tujuan kami di peta, dia tetap tidak mengerti sehingga kami malah dibawa ke Notre-Dame Cathedral. Setelah tunjuk-tunjuk peta lagi, akhirnya dia mengerti dan membawa kami ke City Hall yang memang tidak jauh dari Notre-Dame Cathedral.

Ho Chi Minh City Hall atau Hotel de Ville de Saigon ini dibangun tahun 1902-1908, yang kemudian berganti nama menjadi Ho Chi Minh City People's Committee. Di depan gedung megah ini terdapat taman kecil dimana berdiri patung Ho Chi Minh.

Di seberang taman tersebut terdapat bangunan bersejaran bernama The Rex Hotel. Hotel yang dibangun tahun 1959 ini sangat terkenal dan populer bagi pasukan Amerika sewaktu Perang Vietnam. Sebenarnya teras paling tinggi hotel ini adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat suasana Ho Chi Minh City. Dari bawah, saya juga melihat beberapa orang sedang memotret dengan DSLR Camera mereka. Namun karena waktu yang mepet, kami lebih memilih untuk berjalan ke tempat lain.

Ada beberapa bangunan lain yang cukup menarik, seperti: Hotel Continental Saigon, Duxton Hotel, Raffles Hotel Saigon, dan ada satu gedung indah bergaya romawi yang saya tidak tahu namanya. Setelah itu kami berjalan santai ke daerah pertokoan di sana dan mampir di warung (tanpa tenda) di pinggiran jalan untuk makan pagi menjelang siang. Kami memesan dua piring mie seperti kway teow dan segelas kopi Vietnam seharga total VND 40000.



Setelah itu kami kembali ke penginapan dan packing sebelum berpamitan dengan pemilik penginapan dan ambil taxi menuju Tan So Nhat Airport. Kami harus mengeluarkan uang VDN 100000 untuk biaya taxi. Sebenarnya kita bisa membayar dengan USD 6 yang jika di konversi jatuhnya lebih murah, namun karena supir taxi meminta VND dan kebetulan VND kami masih tersisa cukup banyak, kami membayar dengan VND.

Setelah check-in di Lion Air dan melewati imigrasi akhirnya kami naik pesawat Boeing 737-900ER milik Lion Air yang membawa kami kembali ke Singapura. Sekali lagi terimakasih buat Lion Air yang sudah menyediakan tiket murah dengan pesawat baru dan pelayanan yang sangat baik.

Klik di sini untuk melihat hasil buruan.

Thursday, May 08, 2008

Vietnam Trip, Day 3

Seperti halnya hari kedua, hari ketiga (3 Mei 2008) di Vietnam, kami gunakan untuk mengunjungi tempat lain di luar Ho Chi Minh City. Di hari pertama, kami sudah membeli one-day tour ke Mekong Delta River. Jadi kami bangun jam 6.30 pagi karena perjalanan akan dimulai jam 7.30 pagi dari kantor TNK Travel. Pagi itu, tidak jauh dari TNK Travel, kami sarapan croisant keju, roti perancis dan telor (harga total VND 45000) lagi sebelum berangkat.

Kali ini bis yang membawa kami ke Mekong Delta River lebih besar dan lega dibanding bis yang kemarin, mungkin karena pesertanya juga jauh lebih banyak. Perjalanan dari Saigon menuju Mekong Delta River membutuhkan waktu 2 jam lebih. Bagian sungai yang kami kunjungi ada di My Tho, ibukota provinsi Tien Giang.

Cuaca saat itu sangatlah cerah dan panas, padahal pagi harinya sempet turun hujan cukup deras. Sesampainya di sana, sudah banyak kapal-kapal motor yang menunggu. Karena semua sudah diurus oleh pihak travel agen, kami cukup mengikuti arahan tour guide kami, Mr. Khan, untuk mulai naik ke salah satu kapal yang cukup besar. Ternyata satu kapal tidak cukup untuk rombongan kami sehingga Mr. Khan menyewa kapal kecil tambahan.



Kami menghabiskan waktu cukup lama di kapal motor tersebut sebelum merapat ke daratan dimana ada tempat pembuatan coconut candy tradisional. Di sana kita dapat melihat proses pembuatan coconut candy, karena tour guide kami menjelaskan setiap step dengan jelas dan ringkas. Mulai dari proses diperas, dimasak, dicetak, sampai dipotong kecil-kecil dan dibungkus.

Kemudian kami kembali ke kapal motor untuk melanjutkan perjalanan ke Tortoise Island, tempat dimana kami menghabiskan cukup lama untuk makan siang dan beristirahat. Kami satu meja dengan Jack & Doreen (a couple from Singapore) dan seorang lain yang saya lupa namanya (dari UK yang kebetulan baru bertugas di Singapura). Karena kebetulan siang itu hujan tiba-tiba turun lagi, kami jadi punya banyak waktu untuk chit chat tentang pekerjaan dan pengalaman traveling masing-masing. Obrolan itu membuat place-to-visit kami makin panjang. :D

Setelah hujan reda, kami kembali ke kapat motor dan melanjutkan perjalanan ke seberang. Setelah kapal merapat, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki cukup jauh melalui jalan setapak. Setelah mendapatkan jalan beraspal, kami naik kereta kuda yang bisa dinaiki 6 orang (termasuk sang kusir). Kusir kami sangat tua tapi ramah, dan sesekali kami kuatir ketika harus minggir ke sisi jalan ketika berpapasan dengan sepeda motor atau kereta kuda yang lain karena jalan aspal tersebut sangatlah sempit.

Setelah beberapa menit, kami tiba di suatu tempat. Di sana kami disuguhi beberapa macam tropical fruits, seperti: nanas, pepaya, buah naga, nangka, dan jeruk bali (pomelo). Tidak ketinggalan disajikan juga teh dan madu. Sambil menikmati buah-buahan itu, beberapa orang pemusik lokal mulai bermain musik dan bernyanyi lagu-lagu tradisional Vietnam Selatan.

Hal selanjutnya yang membuat kenapa tour ini menjadi sangat menarik adalah perjalanan dengan sampan (rowing boat). Satu sampan bisa dinaiki 5-6 orang (termasuk 1-2 pendayung). Saya sedikit was-was kalau sampan terbalik, EOS 40D baru saya rusak dong. Namun sepanjang perjalanan dengan sampan, tidak terjadi sesuatu yang membahayakan yang bisa membuat sampan terbalik. :D



Perjalanan dengan sampan berakhir di bagian sungai yang besar. Di sana sudah menunggu kapal motor yang membawa kami diawal. Matahari sudah mulai rendah membuat pemandangan menjadi lebih indah dan udaha menjadi sejuk. Menghabiskan sebagian waktu untuk duduk di ujung depan kapal dan menikmati hembusan angin dan semburat jingga di sela-sela awan sungguh-sungguh sangat relaxing. :)

Klik di sini untuk melihat hasil buruan.

Wednesday, May 07, 2008

Vietnam Trip, Day 2

Di hari kedua (2 Mei 2008) ini, kami bangun sekitar jam 7 pagi karena kami sudah harus berada di TNK Travel sebelum jam 8 pagi untuk mengikuti one-day tour ke Cao Dai Temple & Cu Chi Tunnel yang tiketnya sudah kami beli di hari pertama. Sebelum ke TNK Travel, kami menyempatkan diri untuk sarapan di salah satu restoran di seberang TNK Travel di De Tham Street. Kami memesan 2 menu makanan seharga total VND 39000.

Setelah kenyang dengan roti perancis dan scrambled egg, kami duduk-duduk di TNK Travel sambil menunggu bis yang akan membawa kami ke Cao Dai Temple. Perjalanan menuju Tay Ninh, propinsi dimana Cao Dai Temple berdiri, membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Selama perjalanan kita akan disuguhi pemandangan khas pedesaan: bukit, sawah, dan petani. Namun saya lebih banyak tertidur dari pada melihat pemandangan karena sudah sering melihat yang lebih indah di Indonesia.

Akhirnya kami tiba di komplek Cao Dai Temple sekitar jam 11:15 atau 45 menit sebelum misa dimulai, sehingga kami bisa mengunjungi beberapa bangunan indah yang lain sebelum menuju bangunan utama. Kami berjalan-jalan di komplek tersebut sekitar 30 menit, kemudian berjalan menuju temple utama, The Great Holy See Temple, yang dibangun tahun 1926. Sebagian besar orang-orang disana mengenakan pakaian putih-putih untuk menunjukan diri sebagai pengikut Cao Dai.

The Great Holy See Temple adalah salah satu bangunan paling menarik di Asia Tenggara. Tempat inilah pusat Caodaisme, sebuah agama yang mencampurkan Buddhism, Christianity, dan Confucianism. Di bangunan yang berwarna-warni ini, kita bisa menyaksikan Daily Noon Mass yang diadakan pengikut Cao Dai tiap jam 12 siang selama sekitar 1 jam. Kami menyaksikan upacara tersebut dari atas, tempat yang khusus disediakan bagi turis untuk menonton. Di dalam kita bisa memperhatikan bahwa terdapat 7 tingkat lantai yang membedakan level masing-masing pengikut. Semakin depan dan semakin tinggi lantai dimana mereka beribadah, menunjukan tingkat keimanan mereka.

Kami berada di dalam dan menyaksikan mereka beribadah sampai jam 12:50 siang, atau 10 sebelum upacara tersebut selesai. Karena saking asiknya memotret moment-moment menarik dari pengikut Cao Dai dan juga para penyanyi dan pemain musik yang berada di tingkat 2, saya menjadi orang terakhir yang kembali ke bus. Si jontor sudah harap-harap cemas menunggu di bis. :))

Perjalanan selanjutnya adalah menuju Cu Chi Tunnel yang terletak 70 km dari Saigon. Kita harus memberli tiket masuk seharga VND 80000 / orang terlebih dahulu sebelum masuk ke bagian utama tunnel ini. Di tempat inilah para gerilyawan Cu Chi, atau yang sering disebut NLF guerrillas, berjuang melawan operasi militer Amerika. Sebenarnya terowongan ini memiliki panjang sekitar 220 km, namun sebagian besar sudah buntu dan direnovasi. Kami berkesempatan mencoba memasuki salah satu terowongan yang sudah direnovasi agak muat buat turis. Mereka menyebutnya king-size tunnel atau tourist-size tunnel. :D

Terowongan yang saya masuki memiliki panjang sekitar 150 meter dengan lebar sekitar 50-60 cm dan tinggi sekitar 80 cm. Bagi saya terowongan itu sudah sangat sempit dan gelap den pengap, apalagi terowongan yang aseli. Saya sulit membayangkan perjuangan berat para gerilyawan Cu Chi. Tour guide kami yang bernama Mr. Thong mengatakan bahwa terowongan yang asli jauh lebih sempit dan pendek untuk mengindari getaran yang dihasilkan bom-bom yang dijatuhkan pesawat-pesawat Amerika di tempat ini sebagai Free Target Zone. Dijamin kaki-kaki Anda akan bergetar dan pegal-pegal seusai berjalan jongkok atau merangkak di dalam terowongan ini.

Di Cu Chi Tunnel, kita juga menyaksikan sebuah film dokumenter pendek tentang perang Vietnam, tank berkarat yang dulu digunakan Amerika, jebakan-jebakan dibuat gerilyawan Cu Chi, dan lubang besar tempat bom dijatuhkan. Terlalu banyak saksi bisu tentang perang Vietnam di tempat ini. Selain itu ada lapangan tembak bagi kita yang gemar hobi menembak.

Setelah beristirahat sejenak, kami berjalan ke bis untuk kembali ke Ho Chi Minh City. Badan sudah dekil dan lengket, namun gembira karena pengalaman baru ini. :)

Klik di sini untuk melihat hasil buruan.

Tuesday, May 06, 2008

Vietnam Trip, Day 1

Sejak tiga tahun yang lalu, Vietnam sudah ada di place-to-visit list saya, namun baru kali ini berkesempatan mengunjunginya. Kira-kira sebulan yang lalu, Waktu iseng-iseng browsing local airlines untuk balik ke Jakarta, tidak sengaja saya menemukan promo dari Lion Air untuk penerbangan Jakarta-Singapura-Ho Chi Minh City. Langsung saya telpon si jontor untuk memastikan tanggal. Akhirnya kami berhasil mendapatkan tiket perjalanan pulang-pergi Singapura-Ho Chi Minh City untuk dua orang seharga 2,1 rupiah juta saja.

Singkat cerita, tanggal 1 Mei 2008, sekitar jam 10 pagi kami sudah berada di salah satu boarding room di Changi Airport. Bahkan di boarding room pun, suasana Vietnam sudah terasa karena banyak juga orang Vietnam yang menggunakan jasa Lion Air ini. Pesawat Boeing 737-900ER juga memberikan nilai plus bagi Lion Air untuk go international. Salut buat Lion Air yang sudah membuka rute baru ini dan juga buat service yang sangat baik. Setidaknya kami bisa makan siang cukup enak di pesawat. :)

Akhirnya pesawat JT 150T kami mendarat di Tan So Nhat International Airport di Ho Chi Minh City, Vietnam. Kami melewati imigrasi dengan lancar. Sebagai pemegang paspor Indonesia yang setia, kami tidak perlu membayar seperser pun untuk visa. Setelah itu kami langsung menukarkan SGD yang kami bawa dengan Dong (mata uang Vietnam, disingkat VND) di salah satu money changer di bandara. Kami mendapat VND 11400 per SGD. Jangan menukar terlalu banyak SGD atau USD karena exchange-rate di luar bandara lebih bagus. Kemudian, sesuai blog-nya mbak Elok, dari terminal internasional, kami berjalan sekitar 250 meter menuju terminal domestik. Di situ sudah nge-tem dua bis nomer 152 yang membawa kami menuju De Tham dan Bui Vien, kawasan backpacker utama pusat kota Saigon. Tiket seharga VND 3000 / orang sangatlah murah, apalagi jika di konversi ke rupiah. :D

Setibanya di De Tham Street, kami langsung kesana-kemari untuk mencari hotel atau penginapan murah. Hotel yang pertama kali kami datangi memberikan harga USD 22 / night. Namun karena lagi-lagi berpatokan ke blog-nya mbak Elok yang berfirman bahwa ada private room seharga USD 8 / night, kami mencoba tempat lain. Setelah beberapa tempat kami tanya, akhirnya tiba-tiba ada seorang bapak yang menawarkan private room seharga USD 12 / night. Saya bilang setuju dan mengikuti bapak itu. Bapak itu berjalan memasuki gang-gang sempit di daerah De Tham dan menujukan penginapan yang ternyata milik adik iparnya. :))

Setelah merasa aman dan tidak kuatir bakal ngegembel di Saigon, kami langsung keluar dan mencari info di beberapa tour agency untuk hari kedua dan ketiga. Kami menemukan TNK Travel yang menawarkan one-day tour ke Cao Dai Temple & Cu Chi Tunnel seharga hanya USD 7 / orang, dan one-day tour ke Mekong Delta River seharga hanya USD 9 / orang. Setelah booking tiket untuk kedua tur tersebut, kami langsung berjalan menuju Ben Thanh market mengikuti peta seadanya dari TNK Travel. Namun di tengah jalan kami melihat banyak tempat yang menyewakan motor. Akhirnya kami menyewa sebuah motor bebek seharga hanya USD 4 / day. Di perjalanan kami menemukan money changer. Di tempat itu tiap SGD dihargai VND 11800. Lebih tinggi dari rate di bandara kan. :D

Dengan motor bebek perjalanan di hari pertama bukannya menjadi lebih cepat dan lancar, tapi malah membingungkan. Peta yang kurang jelas, pengetahuan yang minim tentang gaya berkendara orang-orang Vietnam, traffic light yang tidak jelas dan pembatas jalan yang sudah kabur memberikan nuansa semrawut kota ini. Apalagi karena harus melaju di sebelah kanan (kebalikan dari Singapura dan Indonesia) membuat kami tidak bisa fokus memperhatikan peta sekaligus jalan, sehingga beberapa kali kami tersesat. Namun akhirnya dengan semangat untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat, kamu sampai juga di Reunification Palace, museum yang dulunya adalah kediaman resmi dari Presiden Vietnam Selatan. Di gedung yang selesai di bangun tahun 1966 ini, kita bisa melihat lebih dekat sejarah Vietnam yang didalah perjalanannya banyak berhubungan dengan banyak nagara. Di sinilah, pada tanggal 30 April 1975, perang yang dimotori Amerika secara resmi berakhir.

Setelah puas melihat ruangan-ruangan bersejarah di Reunification Palace, kami melaju kencang menuju catedral terkenal yang bernama resmi Saigon Notre-Dame Basilica. Catedral yang dibangun tahun 1863-1880 ini memiliki dua menara tempat lonceng gereja diletakan. Selayaknya gereja Katholik, di dalam cathedral tersebut terdapat jalan salib yang membimbing pengunjung untuk menghayati makna pengorbanan Kristus. Banyak turis dan orang lokal yang bersujud berdoa di dalam gereja tersebut yang membuat saya sungkan untuk mengambil terlalu banyak foto dengan flash. Di depan catedral tersebut berdiri kokoh patung Bunda Maria yang wajahnya menghadap sedikit keatas.

Setelah itu giliran Saigon Central Post Office yang kami sambangi. Terletak persis di samping kiri Notre-Dame Cathedra, Saigon Central Post Office dibangun pada masa kolonial Perancis dan bergaya arsitektur Gothic. Bagi saya, interior gedung ini sangatlah indah dan adem. Lukisan paman Ho di bagian dalam ruangan juga memberikan suasana ramah. Selain itu kita bisa melihat dua peta Vietnam Utara dan Vietnam Selatan.

Sebelum ke Ben Thanh Market, kami mencoba salah satu restoran Vietnam di dekat Notre-Dame Catedral. Sayangnya makanan yang disajikan tidak sebanding dengan kecantikan wanita-wanita Vietnam. Hambar dan mahal. Mungkin kami salah pilih tempat makan. Sebaiknya cari tempat makan di Ben Thanh Market yang terkenal itu. Di pasar itu kita bisa menemukan banyak barang murah (asal pinter nawar). Mulai dari kaos, tas, sepatu, parfum, sampai kopi, manisan, buah-buahan. Juga jangan lupa untuk beli souvenir di pasar ini karena banyak ragam dan relatif lebih murah dibanding di luar.

Setelah puas tawar-menawar dan membawa cukup banyak barang, kami kembali menuju De Tham untuk mengembalikan motor pinjaman dan langsung berjalan kaki menuju hotel hanya untuk ngadem dan mandi, kemudian berlanjut menuju rumah makan yang direkomendasikan pemilik hotel, Pho Ho 24. Pho adalah masakan khas Vietnam yang paling populer. Mie tipis berwarna putih dengan kuah yang yummy, ditambah daging sapi atau ayam, dan kecambah. Rasanya cukup enak.

Setelah kenyang kami berjalan-jalan di sekitar De Tham sekedar untuk melihat-lihat suasana malam di Saigon. Karena kebetulan saat itu masih dalam suasana patriotisme, kami sempat menonton pertunjukan lagu-lagu dan tari-tarian dalam rangka berakhirnya perang Vietnam, 30/4. Banyak orang tua dan muda berkumpul di public area yang disulap menjadi panggung pertunjukan ini.

Klik disini untuk liat hasil buruan.

Monday, April 28, 2008

berburu foto: Bugis - Singapore

Kamera baru memang sayang kalau hanya disimpan di dry-cabinet. Karena sudah beli mahal-mahal, sabtu lalu saya dan jontor jalan-jalan ke Bugis area untuk berburu foto lagi. Ada tiga spot yang menarik: Parkview Square, Sultan Mosque, and Istana Kampong Glam (Sultan's palace). Parkview Square yang terletak di North Bridge Road adalah salah satu office building yang termahal di Singapura. Bagi saya ini adalah salah satu gedung termegah dengan pilar-pilar yang kokoh, salah satu karya arsitektur yang monumental.

Berikutnya kami berjalan terus ke arah Arab Street. Di daerah itu terdapat Sultan Mosque, yang dibangun pada tahun 1928. Kubah emas yang besar dan orang-orangnya membuat saya merasa berada di Indonesia, walau di Indonesia saya tidak pernah masuk ke dalam sebuah masjid, hanya di pelataran saja. Sultan Mosque ini sebenarnya adalah bagian dari daerah yang bernama Kampong Glam, tempat dimana kesultanan Melayu di Singapura pernah berkuasa.

Selain masjid, kita juga dapat melihat Istana Kampong Glam itu sendiri yang sekarang menjadi Malay Heritage Centre. Mungkin kita bisa melihat banyak di dalam museum. Namun karna waktu mepet, jadi lain kali saja... :)

Klik di sini untuk melihat hasil buruan.

Peralatan:
Canon EOS 40D
Canon EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS
Kenko DMC UV Filter 58mm

Wednesday, April 23, 2008

Digi-Cabi DB-036

Yesterday, I bought a dry cabinet for my electronic stuffs, especially for my digital cameras. At John 3:16 (Funan), the Digi-Cabi DB-036 costs SGD 109. But because that was the forth time I went there for dry cabinet, Sam (the owner) gave me a good price. I only needed to pay SGD 105 for this 30-liter dry cabinet.

Specs:
External dimensions:W30×D30×H43cm
Effective capacity: 30L
Power consumption:5W
Digital Hygrometer: 1
Door: 1
Tray: 2 X Adjustable tray with one wave form

The picture is taken from Digihub Singapore.